Bjorka Buat RI Juara Tiga

Bjorka Buat RI Meraih Juara Ketiga Dunia Kebocoran Data

Bjorka Buat RI Juara Tiga – Ulah Bjorka dan beberapa hacker lain pada beberapa bulan menjadikan peringkat Indonesia dalam kebocoran data meningkat.Hal tersebut dikabarkan dari studi baru perusahaan cybersecurity Surfshark. Dengan total, 108,9 juta akun diretas dalam kuartal III 2022 (Juli hingga September).

“Mengikuti serangan cyber Bjorka yang populer dan kejadian lain, Indonesia meraih ranking ke-3 didunia sesuai dengan pengguna yang diretas dalam Q3’2022, mencapai 12 persen dari seluruh pembocoran data dunia,” dilansir dari keterangan pers tersebut, pada (Selasa 15/11).

Hasilnya, ucap Surfhark, “Indonesia meningkat dari peringkat ke-8 menjadi  peringkat ke-3 dengan seluruh jumlah pengguna yang diretas hanya di waktu tiga bulan, dan lebih unggul dari AS.”

Studi tersebut juga mengatakan jumlah pengguna yang diretas diIndonesia meningkat sebesar 1.370 persendalam kuartal terakhir, atau sekitar 13,3 juta akun korban, sesudah beberapa serangan cyber berskala besar.

“Pada 18 tahun terakhir, 49 dari 100 seluruh pengguna internet diIndonesia sudah menjadi korban pelanggaran data,” kata berita tersebut.

Masalah Bjorka dan juga kebocoran data lain, ucap Surfshark, berkontribusi dengan “parlemen Indonesia yang telah meratifikasi UU Perlindungan Data Pribadi di 20 September 2022, undang-undang perlindungan data tersebut merupakan komprehensif yang pertama di negara indonesia.”

Bukan hanya di Indonesia, Surfshark mengatakan ada bertambahnya “peningkatan” sekitar 70 persen pada hal kebocoran data yang secara global. Padahal, yang pertama 2022 perkembangnya cukup lambat.

Sangat mencemaskan mengetahui pelanggaran data meningkat kembali sesudah yang pertama tahun yang cukup menurun, membuat 108,9juta pengguna internet pada risiko yang besar,” ucap Agneska Sablovskaja, Peneliti Utama dalam Surfshark.

Asia merupakan negara yang rentan kedua pada kuartal kedua secara berturut-turut. Taiwan, Indonesia, Hong Kong, Singapura, dan negara Asia lain mengatakan tingkat pelanggaran yang meningkat dalam masa tersebut.

Amerika Utara ada diurutan ketiga sesuai dengan benua, yaitu menurun dari posisi pertama.

Survei tersebut dijalankan via kemitraan dan peneliti keamanan cyber independen yang menyimpan data pengguna dari 27ribu bentuk data yang telah dilanggar dan tampil secara online.

Selanjutnya, para peneliti mengurutkan gabungan tersebut sesuai titik dari data, seperti negara, dan kemudian menganalisis statistik dari penemuan mereka. Tempat penggunanya diidentifikasi lewat email maupun nama domain website.

Baca Juga : Bjorka Dihebohkan Beraksi Kembali Setelah Seminggu Puasa



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *